Perbedaan FHSS, DSSS, OFDM
1. Frequency Hopping Spread Spectrum (FHSS)
Approximate spectrum sinyal DSSS
Gambar 4, Approximate
spectrum sinyal DSSS
FHSS merupakan salah satu jenis dari Spread
Spectrum.Dalam skema Frequency Hopping Spread Spectrum, sinyal
disiarkan sepanjang rangkaian frekuensi radio yang kelihatannya acak, melompat
dari frekuensi ke frekuensi pada titik pisah (split-socond intervals). Sebuah
receiver, melompat di antara frekuensi secara sinkron dengan transmitter, lalu
menangkap pesan. Sehingga orang-orang yang berusaha mendengarkan secara diam
diam hanya akana mendengar bunyi titik titik yang tidak jelas. Upaya untuk
mengganggu sinyal hanya akan berhasil dengan cara menghantam sedikit bit-nya.
Gambar Penggunaan channel pada FHSS
Untuk transmisi data biner dimasukkan ke dalam
sebuah modulator dengan menggunakan beberapa skema pengkodean
digital-ke-analog, semacam Frequency-shift keying(FSK) atau Binary Phase-Shift
Keying(BPSK). Sinyal yang dihasilkan dipusatkan disekitar beberapa frekuensi
dasar.
Sumber jumlah pseudorandom menyajikan apa yang dilampirkan dalam indeks didalam tabel frekuensi. Pada masing masing interval yang berurutan, dipilih sebuah frekuensi baru dari tabel. Frekuensi ini kemudian dimodulasikan melalui sinyal yang dihasilkan dari modulator awal agar menghasilkan sinyal yang baru dengan bentuk yang sama namun sekarang dipusatkan di tengah tengah frekuensi yang dipilih dari tabel. biar lebih jelas lihat gambar di bawah ini
Sumber jumlah pseudorandom menyajikan apa yang dilampirkan dalam indeks didalam tabel frekuensi. Pada masing masing interval yang berurutan, dipilih sebuah frekuensi baru dari tabel. Frekuensi ini kemudian dimodulasikan melalui sinyal yang dihasilkan dari modulator awal agar menghasilkan sinyal yang baru dengan bentuk yang sama namun sekarang dipusatkan di tengah tengah frekuensi yang dipilih dari tabel. biar lebih jelas lihat gambar di bawah ini
Gambar Sistem Frequency Hopping Spread
Spectrum pada Transmitter
Untuk transmisi data biner dimasukkan ke dalam
sebuah modulator dengan menggunakan beberapa skema pengkodean
digital-ke-analog, semacam Frequency-shift keying(FSK) atau Binary Phase-Shift
Keying(BPSK). Sinyal yang dihasilkan dipusatkan disekitar beberapa frekuensi
dasar. Sumber jumlah pseudorandom menyajikan apa yang dilampirkan dalam indeks
didalam tabel frekuensi. Pada masing masing interval yang berurutan, dipilih sebuah
frekuensi baru dari tabel. Frekuensi ini kemudian dimodulasikan melalui sinyal
yang dihasilkan dari modulator awal agar menghasilkan sinyal yang baru dengan
bentuk yang sama namun sekarang dipusatkan di tengah tengah frekuensi yang
dipilih dari tabel.
Gambar 5, Sistem Frequency Hopping Spread
Spectrum pada Receiver
Sedangkan pada penerima, sinyal spektrum penyebaran
didemodulasikan menggunakan sejumlah frekuensi yang sama yang didapatkan dari
tabel kemudian didemoduasikan agar menghasilkan data output. Sebagai contoh,
bila FSK digunakan, modulator memilih salah satu dari dua frekuensi, katakanlah
f0 atau f1, berkaitan dengan transmisi biner 1 atau biner 0.Sinyal FSK biner
yang dihasilkan diartikan ke dalam frekuensi melalui suatu jumlah yang ditentukan
melalui urutan output dari generator sumber pseudorandom. Sehingga, bila
frekuensi yang dipilih pada waktu I adalah f1 maka sinyal pada waktu I adalah
baik fi + fo maupun fi + f1. Sinyal ditransfer secara bergantian dengan
menggunakan 1MHz atau lebih dalam rentang sebuah pita frekuensi tertentu yang
tetap. Prinsip dari metoda frequency hopping adalah menggunakan pita yang
sempit yang bergantian dalam memancarkan sinyal radio. Secara periodik antara
20 sampai dengan 400ms (milidetik) sinyal berpindah dari channel frekuensi satu
ke channel frekuensi lainnya. Pita 2.4GHz dibagi-bagi ke dalam beberapa sub
bagian yang disebut channel/kanal. Salah satu standar pembagian channel ini
adalah sistem ETSI (European Telecommunication Standard Institute) dengan membagi
channel, dimulai dengan channel 1 pada frekuensi 2.412MHz, channel 2 pada
frekuensi 2.417MHz, channel 3 pada frekuensi 2.422MHz dan seterusnya setiap
5MHz bertambah sampai channel 13. Dengan teknologi DSSS maka untuk satu
perangkat akan bekerja menggunakan 4 channel (menghabiskan 20MHz, tepatnya
17MHz). Dalam implementasinya secara normal pada lokasi dan arah yang sama
hanya 3 dari 13 kanal DSSS yang bisa dipakai. Parameter lain yang memungkinkan
penggunaan lebih dari 3 channel ini adalah penggunaan antena (directional
antenna) dan polarisasi antena itu sendiri (horisontal/vertikal).
2. Direct Sequence Spread Spectrum
(DSSS)
DSSS dipilih karena adanya kemudahan
dalam mengacak data yang akan dispreading. Dalam DSSS spreading hanya menggunakan
sebuah generator noise yang periodik yang di sebut Pseudo Noise Generator. Kode
yang digunakan pada sistem spread spectrum memiliki sifat acak tetapi periodik
sehingga disebut sinyal acak semu (pseudo random). Kode tersebut bersifat
sebagai noise tapi deterministik sehingga disebut juga noise semu (pseudo
noise). Pembangkit sinyal kode ini disebut Pseudo Random Generator (PRG) atau
pseudo noise generator (PNG). PRG inilah yang akan melebarkan dan sekaligus
mengacak sinyal data yang akan dikirimkan. Dalam skema ini, masing masing bit
pada sinyal yang asli ditampilkan oleh bit- bit multipel pada sinyal yang
ditransmisikan, yang disebut kode tipis(chipping). Kode tipis yang menyebarkan
secara langsung sepanjang band frekuensi yang lebih luas sebanding dengan
jumlah bit yang dipergunakan. Oleh karena itu, kode tipis 10-bit menyebarkan
sinyal sepanjang band frekuensi yang 10 kali lebih besar dibandingkan kode
tipis 1-bit.
Satu
teknik dengan spektrum penyebaran deretan langsung adalah dengan mengkombinasikan
stream informasi digital dengan bit stream pseudorandom menggunakan
OR-eksklusif contoh pada gambar.1
Gambar 1.Contoh Direct Sequence Spread Spectrum
Patut
dicatat bahwa bit informasi dari satu membalikan bit-bit pseudorandom dalam
kombinasi tersebut, sementara bit informasi 0 menyebabkan bit-bit pseudorandom
ditransmisikan tanpa mengalami inversi. Kombinasi bit stream memiliki data rate
yang sama dengan deretan pseudorandom yang asli, sehingga memiliki bandwidth
yang lebih lebar dibandingkan dengan stream informasi. Pada contoh ini, bit
stream lebih besar 4 kali lipat rate informasi.
Gambar 2a.Direct Sequence Spread Spectrum pada Transmitter
Gambar 2b.Direct Sequence Spread Spectrum pada Receiver
Gambar
2 menunjukkan implementasi deretan langsung yang khusus. Dalam hal ini, stream
informasi dan stream pseudorandom bahkan dikonversi ke sinyal-sinyal analog
lalu dikombinasikan, bukannya menunjukkan OR-eksklusif dari dua stream dan
kemudian memodulasikannya. Penyebaran spektrum dapat dicapai melalui teknik
deretan langsung yang ditentukan dengan mudah. Sebagai contoh, anggap saja
sinyal informasi memiliki lebar bit sebesar tb yang ekuivalen terhadap rate
data = 1/tb. Dalam hal ini, bandwidth sinyal tergantung pada teknik pengkodean,
kira-kira 2/tb. Hampir sama dengan itu, bandwidth sinyal pseudorandom asalah
2/Tc dimana Tc adalah lebar bit pseudorandom input. Bandwidth sinyal yang
dikombinasikan kira-kira sebesar jumlah dari 2 bandwidth tersebut. Jumlah
penyebaran yang dicapai adalah hasil langsung dari rate data pseudorandom.
Semakin besar data rate pseudorandom input, semakin besar jumlah penyebarannya. di bawah ini merupakan Contoh dari gambar
Direct Sequence Spread Spectrum Menggunakan BPSK
Gambar 3, Contoh DSSS menggunakan BPSK
Approximate spectrum sinyal DSSS
Gambar 4, Approximate
spectrum sinyal DSSS
3. Orthogonal Frequency Division Multiplexing (OFDM)
OFDM merupakan sebuah
teknik transmisi yang menggunakan beberapa frekuensi (multicarrier) di dalam satu saluran, di mana setiap
frekuensi carrier saling tegak lurus (orthogonal). OFDM mengirimkan informasi secara paralel
dengan dibagi menjadi paket yang kecil-kecil, sehingga dapat menghemat
penggunaan bandwidth. Tiap sub-carrier pada OFDM disusun saling overlapping tanpa menimbulkan interferensi. Dengan
menggunakan teknik overlapping ini
dapat menghemat bandwidth kanal sampai dengan
50%.
Gambar 1. Perbedaan antara FDM dengan OFDM
Orthogonalitas
Pada teknik OFDM masing-masing sub-carrier tidak disebar berdasarkan bandwidth yang ada, tetapi sub-carrier tersebut disusun saling overlapping. Jarak antara sub-carrier disusun sedimikian rupa, sehingga antar sub-carrier akan saling orthogonal. Dalam tiap sub-carrier dibedakan dengan sebuah simbol dan masing-masing simbol saling orthogonal atau tidak saling mempengaruhi, sebuah simbol dikatakan orthogonal dengan yang lain jika faktor korelasinya adalah 0.
Pada teknik OFDM masing-masing sub-carrier tidak disebar berdasarkan bandwidth yang ada, tetapi sub-carrier tersebut disusun saling overlapping. Jarak antara sub-carrier disusun sedimikian rupa, sehingga antar sub-carrier akan saling orthogonal. Dalam tiap sub-carrier dibedakan dengan sebuah simbol dan masing-masing simbol saling orthogonal atau tidak saling mempengaruhi, sebuah simbol dikatakan orthogonal dengan yang lain jika faktor korelasinya adalah 0.
Gambar 2. Spektrum sinyal OFDM
Pada pembahasan sebelumnya sudah disebutkan bahwa suatu sinyal orthogonal meskipun saling overlapping namun mereka tidak saling menimbulkan
interferensi. Dari gambar 2 di atas new balance shoes clearance, jika ditarik garis lurus
maka nilai puncak dari suatu sub-carrier akan
terhubung dengan nilai minimum dari sub-carrier yang
ada disebelahnya sehingga tiap-tiap sub-carrier tidak
berkolerasi sehingga tidak menimbulkan interferensi.
Sistem OFDM
Sistem OFDM secara sederhana ditunjukkan pada gambar 3 berikut.
Sistem OFDM secara sederhana ditunjukkan pada gambar 3 berikut.
Gambar 3. Blok diagram OFDM
Pada bagian
pengirim (transmitter), informasi atau data yang akan dikirim
semula berbentuk serial kemudian dalam OFDM diubah menjadi paralel kemudian
dimodulasi. Sinyal yang telah dimodulasi kemudian masuk ke dalam IFFT (Inverse Fast Fourier Transform) untuk membuat frekuensi
data saling orthogonal atau dengan kata
lain IFFT berfungsi sebagai pemuat simbol OFDM. Setelah itu ditambahkan cyclic prefix sebagai pemisah frekuensi pembawa
yang saling tumpang tindih. Cyclic Prefix merupakan
salinan dari bagian akhir simbol OFDM yang ditambahkan pada awal simbol. Dengan
menggunakan cyclic prefix akan mengurangi
ISI (inter-symbol interference) dan ICI (inter-carrier interference). Setelah ditambahkan cyclic prefix, kemudian diubah lagi ke dalam bentuk
serial setelah itu sinyal dikirim.
Sinyal yang keluar
dari transmitter berupa sinyal yang saling overlapping sehingga dapat menghemat bandwidth. Pada OFDM kondisi overlapping ini tidak menimbulkan interferensi
antar kanal.
Pada bagian
penerima (receiver), sinyal diubah dari serial ke paralel
kemudian dilakukan pelepasan cyclic prefix untuk
mendapatkan simbol yang asli kembali. Kemudian masuk ke dalam FFT (Fast Fourier Transform). FFT berfungsi sebagai pengurai
simbol OFDM yaitu memisahkan antara frekuensi carrier dengan
simbol OFDM jordan spiz ike. Setelah itu sinyal didemodulasi dan sebelum
diterima kembali dalam bentuk informasi, sinyal diubah terlebih dahulu dari
paralel ke serial.
Referensi :
- https://muammar-teknik.blogspot.co.id/2014/08/frequency-hopping-spread-spectrum-fhss.html











Komentar
Posting Komentar